You are hereProgram Pemberantasan Malaria di Kalimantan dan Sulawesi

Program Pemberantasan Malaria di Kalimantan dan Sulawesi


By admin - Posted on 08 September 2009

APA DAN MENGAPA
PROGRAM PEMBERANTASAN MALARIA
DI KALIMANTAN DAN SULAWESI OLEH PERDHAKI & JEJARINGNYA

LATAR BELAKANG

Penyakit malaria adalah penyakit endemis yang banyak ditemukan di daerah-daerah pedalaman dan terpencil, daerah bekas pertambangan, daerah hutan bekas penebangan kayu. Penyakit malaria telah menimbulkan puluhan ribu korban di daerah-daerah tersebut, mulai dari kesakitan (demam, sakit kepala, pusing, mual, lemah) sampai pingsan (coma), kematian dan cacat mental (karena gangguan otak /kerusakan otak). Karena itu penyakit malaria telah menimbulkan keprihatinan kemanusiaan dan banyak pihak tergerak untuk menolong penduduk yang tinggal di daerah endemis malaria.

Pemerintah Indonesia (Departemen Kesehatan RI), sebetulnya sudah sejak belasan tahun yang lalu, melakukan upaya pemeberantasan malaria di Indonesia. Namun upaya tersebut terkendala banyak hal seperti : sulitnya menjangkau daerah pedalaman & terpencil (beratnya geografi, ketiadaan transportasi, tiadanya petugas yang bersedia), resistensi obat anti malaria, keterbatasan dana dan tenaga, dll. Dengan demikian upaya pemberantasan malaria tidak menyeluruh dan belum menyentuh daerah pedalaman dan terpencil, yang justru merupakan daerah endemis tinggi malaria.

Global Fund yang berkedudukan di Geneva, Swis, adalah organisasi dunia yang mempunyai keprihatinan terhadap penduduk yang hidup menderita karena mengidap penyakit malaria. Global Fund menawarkan bantuan kepada negara-negara yang mempunyai daerah endemis malaria, berupa suatu program kerja sama (partnership) dan pemberdayaan lembaga/orang lokal (empowerment) untuk memberantas penyakit malaria. Indonesia adalah salah satu negara yang menerima tawaran tersebut.

Bantuan tersebut sudah diberikan kepada Departemen Kesehatan sejak tahun 2003, yang disebut Round 1 dan dilanjutkan dengan Round-round berikutnya. Round terakhir yang masih dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan adalah Round 6, yang sekarang memasuki tahun kedua dan meliputi daerah NTT, Maluku dan Papua. Permohonan Departemen Kesehatan untuk Round 7 di tolak oleh Global Fund.

Untuk tahun 2009 ini, Global Fund menawarkan program Round 8, bukan hanya kepada Departemen Kesehatan, tetapi juga kepada Organisasi Non Pemerintah (NGO non government organization). PERDHAKI, sebagai organisasi Non Pemerintah, melalui seleksi yang sangat ketat oleh CCM (Country Coordination Mechanism) Global Fund Indonesia, diberi kepercayaan oleh Global Fund untuk berperan serta dalam program pemberantasan Malaria dalam Round 8, yang meliputi pulau Kalimantan dan Sulawesi.

STRATEGI PEMBERANTASAN MALARIA

Global Fund menetapkan strategi pemberantasan malaria berdasarkan pada hasil penelitian para ahli malaria di seluruh dunia. Prinsip strategi tersebut adalah:

1. Mencegah gigitan nyamuk (jenis anopheles, yang membawa parasit malaria);

2. Mengobati sumber parasit malaria (jenis plasmodium), yang adalah para penderita Malaria yang sedang sakit;

3. Memberantas sarang nyamuk.

Oleh karena itu, program yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

a. Mendorong penduduk di daerah endemis malaria untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, khususnya pada waktu tidur memakai kelambu. Global Fund menyediakan kelambu-kelambu yang dicelup obat anti nyamuk. Departemen Kesehatan dan PERDHAKI di persilakan untuk membagikan kelambu-kelambu tersebut kepada penduduk yang hidup di daerah endemis malaria.

b. Setiap orang yang positif mengidap penyakit malaria diobati sampai tuntas, menggunakan obat anti malaria yang ampuh. Positif atau tidaknya seseorang yang diduga sakit malaria, harus dibuktikan dengan pemeriksaan darah penderita, baik dengan pemeriksaan mikroskop atau dengan kertas tes (RDT= Rapid Diagnostic Test, apabila tidak tersedia peralatan mikroskop atau tidak tersedia tenaga laboratorium/analis yang mampu melakukan pemeriksaan dengan mikroskop).

c. Menganjurkan penduduk untuk memberantas sarang nyamuk yang berada di sekitar rumahnya, seperti kubangan-kubangan air atau wadah-wadah bekas yang berisi air tergenang.

SASARAN PROGRAM

Ada 2 kelompok masyarakat yang merupakan sasaran program ini yaitu :

a. Para pasien yang datang ke Unit Pelayanan Kesehatan Katolik maupun Protestan (Rumah Sakit dan klinik) maupun yang datang berobat kepada petugas kesehatan, yang berada di Kalimantan dan Sulawesi.

b. Umat paroki/stasi dan penduduk non umat di sekitarnya, yang tinggal di daerah endemis tinggi (annual malaria incidence /AMI > 10) di Kalimantan dan Sulawesi.

PERAN

Sesuai dengan sasaran program, maka peran yang dilakukan adalah:

1. Peran AKTIF

a. Peran aktif akan dilakukan oleh para pastor/katekis/guru di paroki-paroki, yang sudah mendapatkan pelatihan-pelatihan

b. Aktif artinya mencari para keluarga-keluarga yang tinggal didaerah endemis Malaria, untuk dilakukan intervensi

c. Peran aktif tersebut ialah:

i. Mendistribusikan kelambu anti nyamuk, melalui mekanisme:

1. Mapping (Pemetaan keluarga-keluarga)

2. Planning (Merencanakan waktu dan tempat pembagian kelambu)

3. Education (Penjelasan tentang pemakaian kelambu dan manfaatnya)

4. Distribution (Memberikan kelambu kepada Kepala Keluarga atau wakilnya, sebanyak 2 buah kelambu per KK)

5. Monitoring (melakukan pengecekan apakah kelambu tersebut benar dipakai pada waktu tidur)

6. Recording & Reporting (Mencatat nama Kepala Keluarga, alamat ,jumlah kelambu yang dibagi, dll), serta melaporkannya secara bulanan kepada SSR (Sub Sub Recipient)

ii. Melakukan Tes Darah (RDT) dari orang yang menderita demam tinggi dan diduga terserang penyakit Malaria

iii. Melakukan pengobatan dengan ACT, terhadap kasus yang hasil Tes darahnya positif

iv. Merujuk kasus malaria berat (yaitu: positif Plasmodium Falciparum dan ada gejala cerebral/otak berupa kejang atau pingsan) ke rumah sakit terdekat

v. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat desa tentang penyakit malaria, pencegahan dan pengobatannya

2. Peran PASIF

a. Peran pasif akan dilakukan oleh Rumah Sakit atau Balai Pengobatan

b. Pasif artinya menunggu pasien datang atau dirujuk ke RS/BP

c. Memeriksa sediaan darah pasien dengan demam tinggi dan diduga malaria, dengan mikroskop

d. Jika pemeriksaan mikroskop positif, diberikan pengobatan dengan ACT

e. Jika kasusnya berat, pasien di rawat di rumah sakit

f. Pemberian kelambu kepada Ibu Hamil yang melakukan pemeriksaan ante natal care

g. Pemberian kelambu kepada bayi-bayi yang melakukan imunisasi lengkap

h. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat umum di sekitar rumah sakit/balai pengobatan, tentang penyakit malaria, pencegahan dan pengobatannya.

KEGIATAN PROGRAM

Sejalan dengan strategi program, maka program yang akan dilaksanakan oleh Perdhaki bersama dengan jaringan unit pelayanan kesehatan katolik dan protestan, serta bekerjasama dengan para pastor paroki di Kalimantan dan Sulawesi adalah sebagai berikut:

1. Pelatihan petugas/sukarelawan

2. Penyuluhan kepada masyarakat umum

3. Pemeriksaan penderita dengan gejala malaria

4. Pengobatan penderita yang positip malaria

5. Perawatan penderita yang menderita malaria otak (Cerebral Malaria)

6. Pemberian kelambu anti nyamuk bagi keluarga-keluarga yang tinggal didaerah endemisitas tinggi

7. Pemberian kelambu anti nyamuk bagi para ibu hamil dan anak-anak Balita

8. Penyediaan bahan-bahan dan peralatan untuk penyuluhan, pencegahan, pemeriksaan dan pengobatan kasus Malaria

Ad.1 Pelatihan

Pelatihan tentang penyakit malaria: gejala malaria, cara pencegahan, metode pemeriksaan, metode pengobatan dan cara perawatan malaria otak, akan diberikan kepada para tenaga kesehatan maupun tenaga non kesehatan (pastor/katekis/petugas lapangan) dengan intensitas dan fokus yang sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Tenaga yang akan dilatih adalah :

a. Dokter (sedikitnya 80 dokter akan dilatih)

b. Perawat (sedikitnya 200 perawat akan dilatih)

c. Bidan (sedikitnya 100 bidan akan dilatih)

d. Analis (petugas laboratorium: sedikitnya 80 analis akan dilatih)

e. Petugas lapangan (sedikitnya 100 petugas lapangan akan dilatih)

f. Pastor (sedikitnya 200 pastor akan dilatih)

g. Katekis (sedikitnya 200 katekis akan dilatih)

h. Tenaga awam lain yang berminat (sedikitnya 100 tenaga awam akan dilatih)

Ad.2 Penyuluhan

Diharapkan tenaga-tenaga yang sudah dilatih tersebut dapat memberikan penyuluhan kepada kelompok masyarakat, sesuai dengan lingkup tugasnya sehari-hari. Sarana akan diberikan kepada para tenaga yang memberi penyuluhan tersebut.

Ad.3 Pemeriksaan

Para tenaga yang sudah dilatih tersebut diharapkan dapat melakukan pemeriksaan darah orang-orang yang mempunyai gelaja malaria (demam menggigil), dengan menggunakan alat test yang sesuai dengan kemampuannya. Petugas kesehatan menggunakan mikroskop, sedang tenaga non kesehatan dengan menggunalan kertas test (RDT=Rapid Diagnostic Test).

Direncanakan semua pasien yang datang ke RS/klinik dengan gejala demam menggigil akan diperiksa dengan mikroskop. Sedangkan 40% penduduk (pada tahun ke-1) dan 60% penduduk (pada tahun ke-2), dari umat paroki/stasi (dan penduduk sekitarnya) yang mempunyai gejala demam menggigil akan di tes dengan RDT oleh pastor/katekis/awam sularelawan yang sudah dilatih.

Ad.4 Pengobatan

Para tenaga kesehatan yang sudah dilatih tersebut diharapkan dapat memberikan pengobatan kepada penderita yang tes darahnya positif, dengan menggunakan obat yang paling ampuh (yaitu ACT tablet) dan dengan dosis yang tepat/cukup, sehingga penderita segera terbebas dari parasit malaria.

Direncanakan pasien/penduduk yang positif malaria (baik yang diperiksa dengan mikroskop maupun yang di tes dengan RDT), akan diobati dengan obat anti malaria ACT, baik oleh petugas kesehatan (yang datang di RS/klinik) maupun oleh pastor/katekis/awam sukarelawan.

Ad.5 Perawatan intensif di rumah sakit

Tenaga Kesehatan di rumah sakit diharapkan mampu merawat pasien dengan Malaria Otak (Cerebral Malaria akibat parasit jenis plasmodium falciparum).

Unit Pelayanan Kesehatan yang lebih kecil maupun pastor/katekis yang menemukan penderita dengan malaria otak di harapkan secepat mungkin mengirimnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang memadai.

Diharapkan semua penduduk yang sakit malaria berat, yang positip terserang parasit Malaria jenis Plasmodium Falciparum dan yang menderita gejala otak (pingsan, koma, kejang-kejang) dapat segera dirujuk ke rumah sakit dan dirawat secara intensif.

Ad.6 Pemberian kelambu untuk keluarga

Para pastor/katekis/tenaga awam paroki diharapkan bisa memberikan kelambu anti nyamuk (kelambu yang sudah dicelup dengan obat anti nyamuk) kepada para keluarga yang tinggal didaerah endemis tinggi, yaitu 2 kelambu per keluarga dan bisa lebih jika dalam keluarga terdapat lebih dari 5 orang yang tinggal bersama dalam satu rumah.

Direncanakan 40% jumlah keluarga (pada tahun ke-1) dan 60% jumlah keluarga (pada tahun ke 2) dari umat paroki/stasi (dan pendudk sekitarnya) mendapat kelambu anti nyamuk sebanyak 2 kelambu per keluarga. Jika jumlah anggota keluarga ada lebih dari 5 orang, dapat diberi tambahan kelambu lagi sebanyak 1 kelambu per 2 orang.

Ad.7 Pemberian kelambu untuk ibu hamil dan Balita

Petugas Kesehatan diharapkan dapat memberikan kelambu anti nyamuk kepada para ibu hamil yang datang ke klinik/RS untuk memeriksakan kehamilannya (satu kelambu untuk satu ibu hamil) dan kepada anak Balita yang datang untuk meminta imunisasi. Satu kelambu untuk satu anak Balita yang mendapat imunisasi.

Direncanakan semua ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya dan Balita yang datang untuk imunisasi, ke rumah sakit dan klinik, akan mendapat satu kelambu anti nyamuk.

Ad.8 Penyediaan bahan-bahan dan peralatan

Bahan-2 dan peralatan akan diberikan kepada para petugas kesehatan maupun non kesehatan sebagai berikut:

a. Mikroskop binokuler diberikan kepada Unit Pelayanan Kesehatan yang belum mempunyai mikroskop (52 buah mikroskop)

b. Bahan-bahan laboratorium diberikan kepada semua unit pelayanan kesehatan (balai pengobatan maupun rumah sakit), yang melakukan pemeriksaan darah malaria (75 laboratory kit)

c. RDT (Rapid Diagnostic Test) diberikan kepada para pastor/katekis/tenaga awam yang sudah dilatih, yang melakukan pemeriksaan darah Malaria (sedikitnya 50,000 RDT dalam 2 tahun)

d. ACT tablet diberikan baik kepada petugas kesehatan (di rumah sakit maupun klinik) maupun pastor/katekis/tenaga awam yang sudah dilatih, yang melakukan pengobatan terhadap penderita malaria (sedikitnya 25,000 pengobatan dalam 2 tahun)

e. ACT suntik, cairan infus dan peralatan infus, diberikan kepada rumah sakit yang memberikan pengobatan dan perawatan kepada penderita malaria otak (sedikitnya 800 paket dalam 2 tahun)

f. Bahan-bahan penyuluhan (leaflet/brosur, poster, spanduk) diberikan, baik kepada petugas kesehatan maupun pastor/katekis/tenaga awam yang sudah dilatih, untuk digunakan sebagai bahan penyuluhan kepada masyarakat

g. Kelambu anti nyamuk diberikan kepada petugas kesehatan yang melayani ibu hamil dan anak Balita, serta kepada para pastor/katekis/tenaga awam yang sudah dilatih yang melayani umat/penduduk (dalam 2 tahun, sedikitnya 500,000 kelambu).

ORGANISASI PROGRAM

Untuk mengelola program Malaria ini akan dibentuk organisasi sebagai berikut:

1. PR (Principal Recipient) di tingkat PERDHAKI Pusat, yang akan berhubungan dengan Global Fund an Departemen Kesehatan

2. SR (Sub Recipient) di tingkat wilayah, yang akan berhubungan dengan Dinas Kesehatan setempat dan merupakan perwakilan PR. SR terdiri dari:

a. 6 Perdhaki Wilayah atau RS anggota PERDHAKI, yang akan bekerjasama dengan Keuskupan setempat di Kalimantan dan Sulawesi.

b. 3 Keuskupan (Banjarmasin, Palangkaraya dan Sintang)

c. 1 PELKESI

3. SSR (Sub Sub Recipient) ditingkat kecamatan atau kabupaten:

Ada 48 buah, yang pada umumnya Dekenat atau Kevikepan

JEJARING PROGRAM MALARIA PERDHAKI

PERDHAKI akan melaksanakan programnya pertama-tama melalui Unit Pelayanan Kesehatan Katolik yang berada didaerah Kalimantan dan Sulawesi. Selain berjejaring dengan Unit Pelayanan Kesehatan katolik, PERDHAKI akan berjejaring dengan unit pelayanan kesehatan protestan yang bergabung dalam organisasi PELKESI.

Di Kalimantan dan Sulawesi terdapat banyak wilayah pedalaman dan terpencil yang sulit dijangkau oleh petugas kesehatan pemerintah, sehingga selama ini kurang terlayani oleh pemerintah. Padahal daerah Kalimantan dan Sulawesi adalah daerah yang banyak dihuni oleh umat katolik dan juga sangat jarang dikunjungi petugas dari RS/klinik katolik sendiri.

Oleh karena itu, agar bisa menjangkau penduduk yang hidup di daerah pedalaman dan daerah terpencil, PERDHAKI akan berjejaring dengan para pastor paroki dan para katekis yang biasa melayani umat didaerah pedalaman dan terpencil. Banyak pastor dan tenaga katekis didaerah ini yang sudah biasa berkarya di pedalaman dan daerah terpencil, sehingga bisa banyak berperan untuk menolong masyarakat pedalaman dan daerah terpencil. Sosialisasi kepada para Bapak Uskup dan para pastor sudah dilakukan PERDHAKI, sejak bulan Juni 2008 dan diikuti dengan kunjungan oleh staf Perdhaki ke keuskupan-keuskupan, khususnya pada waktu ada acara Temu Pastoral. Dari sosialisasi tersebut, PERDHAKI mendapat sambutan luar biasa dari para Bapak Uskup dan para Pastor, yang secara spontan menyatakan akan berpartisipasi dalam program pemberantasan malaria di paroki dan stasi mereka.

DUKUNGAN GLOBAL FUND

Prinsip bantuan Global Fund adalah kemitraan (partnership) dan pemberdayaan orang-orang setempat (empowerment). Global Fund mendukung lembaga-lembaga dan orang-orang yang berniat baik untuk menolong sesamanya yang menderita malaria, agar upaya lembaga-lembaga dan orang-orang tersebut lebih berhasil mencapai sasarannya. Dengan demikian, bantuan Global Fund bukanlah proyek yang mendatangkan uang, tetapi untuk mendukung upaya lembaga lokal.

Global Fund akan mendukung sarana untuk program pemberantasan malaria ini yaitu:

1. Kelambu, bahan, alat, obat:

a. Kelambu yang sudah dicelup obat anti nyamuk (LLIN = Long Lasting Impregnated Nets)

b. Mikroskop untuk pemeriksaan darah penderita malaria

c. RDT, kertas tes untuk pemeriksaan darah penderita malaria, di daerah-daerah yang tidak mempunyai mikroskop atau yang tidak mempunyai tenaga mikroskopis

d. Obat ACT tablet dan injeksi, yang sangat ampuh untuk menghancurkan plasmodium/parasit malaria dalam darah penderita

2. Dana untuk menutup biaya-biaya:

a. Biaya pengangkutan kelambu sampai kepada para penduduk dan keluarga-keluarga yang membutuhkan

b. Dana untuk pelatihan, penyuluhan, perjalanan dan operasional kantor (di tingkat pusat/PR, propinsi/SR dan kebupaten/SSR)

APA MANFAAT KETERLIBATAN DALAM PROGRAM INI ?

Yang akan mendapat manfaat dari program ini adalah masyarakat yang hidup di daerah pendalaman yang hidup di daerah endemis malaria dan sejak puluhan tahun yang lalu menderita sakit karena malaria, mati maupun cacat otak karena penyakit malaria. Secara khusus, program ini akan menolong umat katolik dan penduduk di sekitarnya, yang hidup di daerah endemisitas tinggi malaria.

Program ini juga akan memberdayakan para pastor, katekis dan sukarelawan awam, untuk berperan serta aktif dalam upaya pemberantasan penyakit malaria di Kalimantan dan Sulawesi. Tidak ada keuntungan uang atau materi apapun bagi petugas atau tenaga-tenaga yang terlibat dalam program (sesuai dengan prinsip Partnership dan empowerment).

KAPAN PROGRAM AKAN DIMULAI ?

Program ini direncanakan akan berlangsung selama 2 (dua) tahun dan akan dibantu Global Fund. Proposal untuk meminta bantuan Global Fund sudah diajukan ke Jenewa pada bulan Maret 2009 yang lalu, namun masih memerlukan perbaikan-perbaikan untuk disesuaikan dengan standar Global Fund. Proposal yang sudah diperbaiki sudah diajukan pada bulan April 2009 dan setelah revisi berdasarkan AMI (Annual Malaria Incidence) dari DEPKES, diajukan lagi pada awal Juli 2009. Proses selanjutnya adalah:

1. Proses pemeriksaan proposal oleh Global Fund dan asesmen organisasi Perdhaki oleh KAP Price Waterhouse Cooper, sudah selesai dilakukan pada awal Agustus 2009.

2. Diskusi hasil asesmen PWC dengan pejabat Global Fund (Mr. Olivier) sudah dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2009 .

3. Diskusi selanjutnya akan diadakan di Ulanbator, Mongolia, pada tanggal 3-5 September 2009, oleh Tim Perdhaki (Bu Yayuk dan Bu Irene) dengan pejabat Global Fund, pada saat pertemuan EAP Meeting.

Jika semuanya beres, kemudian akan dilakukan penanda-tanganan perjanjian kerja sama antara PERDHAKI dan Global Fund. Sesudah itu, barulah bantuan Global Fund akan turun. Jadi kapan tepatnya kita bisa memulai, tergantung dari proses-proses tersebut. (FHG)

Tags